Minggu, 01 Oktober 2017

Tak ada keadilan untuk orang-orang kecil. Orang-orang besar lah yang selalu menang. Apapun yang di perbuat orang besar tak peduli apakah itu salah semua menganggap nya benar. Pemerintah pun tak benar-benar menanggapi apa yang seharusnya menjadi hal orang kecil, mereka terlalu menganggap remeh dan menyepelakannya.

Rabu, 20 September 2017

Menuju Halal

Semua malam telah ku nanti, hingga aku berharap semua pagi cepat berlalu. Rasa rindu sudah tak lagi bisa ku simpan. Aku selalu menantikan hari itu. Hari dimana semua apa yang aku miliki adalah milikmu. Hari dimana semua apa yang ku lakukan atas ijinmu.
Saat janji suci itu terucap, segala resah, gelisah dan sedih akan tersudahi. Segala rindu akan temu, akan terbalaskan. Segala kasih dan sayang akan semakin kuat.
Aku menemukanmu dalam keadaan tak sempurna, begitupun sebaliknya. Tapi aku tahu apa yang sudah menjadi takdirNya untukku semua akan jadi sempurna. Saat doa kita saling beriringan aku semakin yakin kamulah imam yang ditakdirkan untukku.
Hai, mas...
Bersabarlah, hari itu akan datang. Hari yang sudah di tentukan kedua keluarga, keluargaku dan keluargamu. Semua apa yang kamu doakan pasti terkabulkan. Hari-hari lelah saat kamu mempersiapkan semua akan segera terbayarkan. Tuhan Maha Romantis, mas, jangan berhenti memanjatkan doa kepadaNya.

Minggu, 29 Januari 2017

Pahami Saja.

Tugasmu hanya mengusahakan sekuat yang kamu mampu, setelah itu waktunya menunggu. Jika sudah berkali-kali mencoba, melakukan hal-hal untuk menggapai cita, sediakan diri untuk menunggu hasilnya. Yang untukmu, yang diciptakan untukmu, yang ditakdirkan bersamamu, akan menjadi bagian dari dirimu pada akhirnya. Bagian yang akan menemanimu sepanjang usia. Namun, jika sesuatu, dalam bentuk apa pun, yang diciptakan bukan untukmu, tak akan pernah bisa kamu paksakan agar menjadi milikmu. Dipaksakan sekeras apa pun kerasnya, akhirnya akan hilang juga.
Tugasmu hanya melakukan hal terbaik yang kamu bisa, sertai doa agar sempurna. Lalu belajarlah menerima; seandainya kamu kalah dan tidak memiliki sesuatu. Pahami saja, ada hal-hal dalam semesta ini, yang tidak akan pernah menjadi milikmu meski kamu sudah memaksakan diri melakukan apa pun dengan semestinya. Mungkin yang tak pernah kamu dapatkan itu, memang ditakdirkan bukan menjadi bagian yang baik untuk hidupmu. Beberapa hal hanya dikenalkan untuk disebut sebagai bagian masa lalu.
#boycandra

Minggu, 15 Januari 2017

Mengenalmu

Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang lalu dipertemukan dengan keyakinan yang menghujam. Bahwa kamulah yang ridhoNya kelak akan mengantarku ke surga. Bahwa akulah awak kapal yang akan kau nahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.
Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang dipertemukan dengan keyakinan yang entah begitu saja. Cinta? Entah pula. Bagaimanalah. Jika cinta adalah mengenal, maka sekali lagi, kita adalah dua manusia asing.
Namun, percayalah, apalah arti keterasingan itu, jika Allah menjadi tujuan. Bukankah tak ada yang asing bagi-Nya? Bukankah akan mudah saja menghadirkan cinta di hati ciptaan-Nya?
Aku tak berani berjanji apa-apa, namun satu yang akan kulakukan, jika ijab itu terucap nantinya, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu seumur hidupku. Ya, mencintai. Bukan sekadar cinta. Karena akan besar sekali komitmen dan tanggung jawab dari mencintai. Dan kita, adalah dua manusia yang siap menjalani komitmen dan tanggung jawab itu.
Ah, bukankah cinta saja selalu tak cukup untuk mengarungi perjalanan panjang hidup nantinya? Bukankah kesamaan visi kita lebih utama? Karena itulah aku memilihmu. Karena meskipun aku asing bagimu, kamu memperkenalkan visi itu sebagai dirimu: menjadikan kebersamaan kita sebagai jalan untuk meraih ridho-Nya. Klise memang, tapi langkahmu kemudian menyadarkanku, kamu membuktikannya.Untuk itulah aku memilihmu. Untuk itulah aku berani memutuskan untuk mencintaimu. Karena satu visi pasti satu cinta, sementara satu cinta belum tentu satu visi.
Kamu dan aku adalah dua manusia asing yang punya latar cerita masing-masing. Tak perlu menutup cerita itu, karena apalah artinya jika keyakinan itu sudah membuat kita berani memutuskan untuk menciptakan bahagia bersama-sama.
Wahai lelaki asing, seberapapun aku mengenalmu, aku yakin tak akan ada artinya jika aku tak mengenal-Nya. Karena semakin dalam aku mengenal-Nya, insyaAllah akan semakin dalam pula aku mengenalmu. Bukankah kita sudah bertekad ini semua untuk-Nya? Maka biarlah. Biar Dia yang membuat kita saling mengenal dalam bingkai cahaya pernikahan.
Semoga Allah memudahkan langkah kita.

Sabtu, 10 Desember 2016

Wanita Yang Merebut Kebahagiaanku.

Wanita itu...
Dia satu kota dengan-nya. Usia nya lebih muda dariku. Sepertinya dia gemuk. Jujur sih aku hanya mengetahui dirinya secara maya saja, belum pernah bertatap muka. Dia memiliki kantung mata. Entahlah apalagi ciri-cirinya aku tak begitu tahu, yang aku tahu hanyalah dia mantan dari orang yang (pernah) aku sayang.
Aku menulis pesan ini untukmu. Bukankah kamu spesial? Ahh tentu saja sangat spesial karena kamu sumber masalah dari segala masalah hubunganku dengannya. Maaf, mungkin perkataanku menyinggung aku sedikit emosi kalau mengingat kejadian itu. Kamu, wanita yang selalu bersikeras mendapatkan apa yang sudah terlepas darimu. Sengaja ataupun tidak yang jelas kamu sudah merusak kebahagiaanku, menghancurkan segala hidup yang sudah aku tata dengan rapi. Bahkan kamu dengan mudahnya menganggap cinta adalah usaha yang harus diperebutkan, sebuah pertandingan yang harus dimenangkan. Mungkin sekarang kamu sudah puas dengan kemenanganmu. Dia kembali padamu dengan tega dia melepasku secara paksa. Lalu apakah segala yang kau ucapkan kepadaku, semua alasan usaha membela diri sendiri membuat diriku percaya? Tentu saja tidak, aku bukan seseorang yang hanya diam ketika masalah masih membuat segala tanya dikepalaku. Kau bilang kepadaku pertama mengenal lelaki hanya mengenal dia. Dan kamu juga bilang dia cinta pertamamu. Yakin dengan apa yang kau ucapkan? Maaf, aku tidak percaya dan memang kamu tidak dapat dipercaya. Itu hanya alasan agar dia merasa kasihan kepadamu. Aku tahu sebelum kamu mengenal dia kamu sudah mengenal lelaki lain, dan aku juga tahu kamu menyukai orang itu. Tapi entahlah kamu merasa orang itu php dan tidak peka terhadap perasaanmu. Aku juga tahu kamu pernah pacaran dengan pria hanya satu jam. Itulah sebabnya meskipun apapun yang nantinya kamu jelaskan padaku, aku tidak percaya.
Nikmati kebahagiaanmu dengannya sekarang sampai kau benar-benar tega merusak kebahagiaan sesamamu. Kita sama-sama wanita seharusnya kalau memang benar kamu memiliki hati kau tidak akan serendah ini merebut seseorang yang telah ku miliki. Meskipun dia itu masalalu mu dan kamu masih menyukainya. Hanya karena kamu sudah mengenal dan dekat dengan ibunya bukan berarti seenaknya kamu merampas mimpi wanita yang bersamanya saat ini. Maaf jika tulisanku menyakitimu, aku hanya meluapkan apa yang aku rasakan. Berdebatpun aku malas karena kita tidak setanding. Aku benar-benar tersakiti dengan kelakuanmu. Kamu membuat dia mengingkari janjinya kepadaku, kamu membuat dia menyakiti dan mempermainkan perasaanku. Semoga saja kamu paham, aku tak pernah mempermasalahkan jodoh dalam pembahasan ini. Aku hanya bercerita tentang seseorang yang merusak kebahagiaanku. Kamu tidak mengerti rasanya jika kebahagiaan kita dirusak wanita lain, jadi kamu dengan mudahnya melakukan ini kepadaku. Maaf saja tidak cukup untuk membayar semua luka yang aku rasakan. Mungkin suatu saat aku bisa memaafkan, tapi tidak untuk melupakannya, akan selalu kuingat wanita yang telah merebut kebahagiaanku.

Kamis, 08 Desember 2016

"Senja, hujan, dan cerita yang telah usai - Boy candra"

Bagaimana bisa kamu menjadi orang yang benar benar ingin kubenci? Sementara, dulu begitu dalam aku menjatuhkan hati. Hatiku menolak pergi, tetapi kenyataan terlalu menyakiti. Kamu lelah dengan segala yang kita perjuangkan bersama. Kamu memintaku berlapang dada, memintaku melepaskan begitu saja. Apakah kamu tidak pernah merenungkan walau sejenak saja, betapa luka pedih mengiris dada, melihat orang yang paling dicinta meminta lepas demi seseorang yang ia cinta? Kita tidak menjalani ini sehari dua hari, terlalu lama kebersamaan ini membuat aku tidak tahu lagi jalan kembali.
Meski tidak ingin memintamu kembali, tapi lukanya tetap saja tak sepenuhnya pergi. Menyiksa malam-malamku, menyesakkan dalam diamku. Kenangan selalu pulang dengan hal-hal yang kamu buang. Dengan hal-hal yang dulu sepenuh hati kita impikan dalam hal berjuang. Apa kamu bahagia dengan segala luka yang kini kurasa? Apa kamu tidak merasa betapa dalamnya aku tenggelam dalam hal-hal yang terlalu pahit rasanya kenyataan ini?
Menjadi kamu mungkin menyenangkan, setelah dicintai bisa semudahnya membuang. Setelah disayangi lantas kamu merasa berhak menyakiti. Sementara aku tertatih untuk berdiri kembali. Andai mudah membencimu, aku sudah melakukannya semenjak kamu memilih berlalu. Namun, perasaan tak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan. Aku masih mencarimu dalam doa-doa, meski tidak sesering dulu sewaktu awal terluka. Lelah rasanya begini, mengharapkanmu yang tak pernah peduli. Menggenggam hati seseorang yang tak lagi bersedia dimiliki.
Semoga waktu benar-benar obat dari segala pilu. Tak banyak lagi yang kuharapkan darimu. Meski sejujurnya tak semudah itu membiarkanmu semakin jauh dari masa lalu. Namun, aku paham, aku bukan lagi orang yang kamu inginkan. Sekuat apa pun aku menjaga doa-doa untuk bersama, tidak akan berguna bila kamu tidak juga bersedia. Menjadi kamu mungkin tak akan pernah mengerti rasanya mencintai seseorang, pada saat yang sama perasaan itu terus saja menyakitimu tanpa pernah bisa kamu buang. Jagalah dia baik-baik, semoga luka hatimu tidak pernah berbalik. Jagalah dia yang kamu pilih sebagai cinta, semoga kelak dia tidak menjadi seperti kamu, yang memilih pergi dan membekaskan luka. ~

Senin, 05 Desember 2016

Hujan.

Hujan deras mengguyur desa tempatku tinggal sore ini. Aku yang masih asyik berselancar di internet dan playlist yang selalu memanjakan dua telingaku melalui headset. Hujan semakin lama semakin deras hingga menembus volume musik yang sedang terputar.
Selang beberapa menit, entah darimana datangnya sebait kenangan dua bulan lalu melintas dalam pikiranku. Lelaki itu, datang lagi dalam bayangan. Saat dimana aku dan dia kehujanan di sepanjang jalan rambi-tanggul. Pada waktu itu dia mengantarku pulang kerumah karena aku alergi bus, jadi dia tidak tega dan tidak mau terjadi apa-apa dengan diriku. Aku benar sungguh sangat menyayanginya. Bahagia ku rasa saat berdua dengan dia.
Memang benar jika hujan bisa memulangkan kenangan. Dalam hati berkata "YaAllah, aku benar-benar merindukan dia yang dulu". Waktu sudah berjalan, dia semakin jauh, bayangnya pun sudah tertutup kabut. Tapi matanya masih saja mampu tertembus ingatan. Tapi, semua sudah berakhir meski belum terselesaikan.